Sabtu

You see me? I see you. Do you see you?


Do you have a favorite soap opera? Have you ever noticed the oddest thing about all the characters? However they lead their lives, no matter how 'normal' they act or how much like our world theirs is supposed to be, there is one thing you never see them do. You never see them watching their own programme on TV. They live in a world where it just so happens that that show never comes on! Now, who, I wonder, is watching you? Are your movements being closely studied by some distant observer? Your audience, now, deserve to be surprise by your dramatic melancholy but sadly you are not going to be able to enjoy your own show. Maybe life is a big production of soap opera simply because you never see yourself in action. You always see others and oh my, where is the camera! (cute cat anyway)

My Result of The Humm-Wadsworth Temperament Scale

Australian workplace vocabulary, a person with this style is known as the "knocker". They are pessimistic in outlook, overtly aggressive and argumentative but, underneath, a little unsure about their own capabilities. This accumulation of critical feelings is somewhat balanced by a maturity of judgement and constructive self-management. Therefore, whilst this person is not going to be winning any popularity contests, they can demonstrate behaviour that is a little more acceptable at the workplace, provided of course they are in a work role where they can be publicly successful.

Problems and difficulties become the focal point for people with this style. It is almost as if they relish the situation where something goes wrong, so that they can exercise their critical vocabulary. There is an "I told you so" attitude which leads them to clearly point out not only what went wrong, but why it went wrong and who's fault it was. Pressure for them mounts quite rapidly where they appear to be the perpetrator of the error, and they will do their upmost to deflect blame from themselves. Whilst they will give "lip service" to the person who holds formal authority over them, they will delight in criticising that person's actions, especially if they happen to make an error. Because there is no obvious warmth present in a person with this style, they project brusqueness and, under pressure, a level of criticism and sarcasm which does not endear them to work associates.

Their preferred work style is to be involved in tasks which are important, but where the potential for error, and certainly the potential for public criticism, has been removed. Their control sees them being sensible enough to prepare thoroughly for what they have to do, to undertake the necessary training and to structure their own work scene so that they can avoid errors. They will make sure they have the proper equipment and material, and the critical side can to some extent be constructively employed, foreseeing difficulties and putting together strategies to make sure they don't reflect badly on them and their work performance.

They don't need other people in the team sense at the work place, but they would seek positions where they can exert authority and where they can delegate menial tasks to subordinates. Their normal supervisory style in handling subordinates, however, is not one that's likely to create enthusiastic support and contribution. Their negativism is off putting to most people and, by their own attitude, they can isolate themselves. However, they are able to damp down some of this negativism when they are dealing with people they regard as important and, whilst there will be little warmth present, they will be polite and go through the formal processes of deferring to authority.

Summary and recommended professions
A natural critic, a person with this style automatically looks for the flaws or faults in things and feels at home taking responsibility for the improvement of systems, procedures or processes. As a result, they should enjoy roles such as:

Professional: Vulnerablity Manager; Property Manager; Critic (art, theatre etc.)

SOMEHOW I am not satisfied with the result. Does that sound like I’m criticizing this scale? Or am I just being me? I don’t think I'm a critique in any way though I know sometimes I'm able to perfectly predict the outcome of a sudden decisive act. Am I a pessimist?

Jumaat

Harapan adalah sebuah kerisauan

Bermalam sudah berdoa tanpa bukti sesiapa 'kan mendenggari,
Hati ini adalah lagu yang kita sendiri tak fahami,
Tiada gusar walau banyak yang ditakuti,
Sudah berbatu jauh barulah kita sedar keadaan ini.

Dalam melayang aku berdiri,
Hati penuh mencari iman nan berkata-kata

Sungguh mudah menyerah pada kegusaran,
Dan bila sakit membutakan jalan,
Ada suara kecil, tapi kukuh membisik harapan kian menghampiri

walau harapan rapuh, ia sukar dibunuh.

Rabu

Tuhan & Bahasa & Athiesme



"Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya."

Sila ambil perhatian ini adalah penulisan separa akademik menerusi pandangan peribadi seorang penulis.


MIND MASTURBATION BEGIN:

Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada
- G. MOHAMAD

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu ’ke Tuhan’ atau adieu ’selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ’Tuhan’ yang itu juga”.

Syahadat Nurcholish Madjid

Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya. Signatum (”petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain—satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”—atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya—satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.

Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.

Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

Tampaknya Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu—berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

Levinas—yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi—tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain—Buddhisme dan Taoisme misalnya—dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

Tuhan “Tak Harus Ada”

Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”—sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”—saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ’fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek—kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion—seperti Levinas—berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu—juga Tuhan—di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart—merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit”, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Jakarta, 27 September 2007

GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo
Sumber, Kompas, Sabtu, 06 Oktober 2007

Sabtu

What is so cool about being psychotic anyway?

Lately an obvious trend (read: cool) of promoting personal connotation of which reflecting oneself in a rather emotionally degenerated condition has been used to describe momentary behavior (generally) by youth in online social network and everyday verbal conversation. Yet, how cool is it? Perhaps the degree of coolness when complying with psychotic expression cannot be interpreted empirically. Thus, in this case elaboration will be made in a mere value judgment view.

The degree of 'coolness' however is determined by favorable consistency of indeliberate growing consensus. Meaningwise, when a 'cool' is no longer cool but still being practiced, said, done or thought of without any moral, political or economic restriction, then it will be regard as 'norm'. On the other hands, when known restriction imply, the term 'uncool' is best to describe those who socially deviated. The perfect example of currently 'uncool' aspect is joining UMNO and wearing Batik whereas a norm may be illustrated in culturewise view e.g smoking.

So then Mr. Ratna, does bragging oneself psychotic tendencies is considered cool?
Let’s find out.

Certainly there is no certainty in the opinion-based semi-crapped write-ups like this. Nonetheless, let us do some simple examination. Browse thru your online social network, messenger and text message. Did you notice anyone using emotionally degenerated connotation such as numb, psyco, crazy, mad, skizo, amnesia, etc etc etc.... Now, in reality, do they really like that? Well, of course we don’t know and uniquely, only they know what really happened to them. However, skeptically thinking, what if the 'mood' or 'status' were being use just to create a mere sympathetic lures which purposely done in order to keep people constantly pays attention to them?

But why must it be psychotic?

You see, woman paid more attention to emotional-related issues, they can read face better than man and yes they were born to feel sympathy. Therefore, it is so faking pathetic to lure girls using sympathetic line dude. Not cool. Using emotional connotation as such is just a mere reflection of opening a gateway for pathetic flirting. Go home, play sympathy with your mom, you are so not cool.

What if it is from girls?

Okey, you got me there. Hmm.. using personal emotionally degenerated connotation among woman were mostly driven by the anxiety to hinder themself from being easily predicted as for the fact that they dont want themself to be buying all lousy lines promoted by pathetic guys. Haha.. Let say, if a girl put her status as "sad-just got fak multiple times-hurt" what kind of guys will respond to that? and if they do respond, what will be the reply then?

Above all, i consider this issue as another third world syndrome.

regards,
Ratna

Khamis

NASIB

BARANGKALI hujan enggan berhenti pada malam itu. Kami sendirian di pembaringan yang dingin. Suaranya cukup tenang setenang wajahnya yang cantik. Menyapa dan berkata:

"Amir i think i have cancer." Guruh kemudian menyambung. 

Semalam ia kecelakaan, hancur motokarnya dimakan api. Duit dibawa lari kemudian telepon bimbit pula dicuri dan ditipu lelaki. Hari, minggu, bulan dan tahun lalu menindihnya dengan kemalangan yang tak putus sampai hancur luluh seluruh raga tak mahu meneruskan hidup. Tapi dia tabah, masih berada di hujung talian.

Amir, why me?

Gadis cantik yang ditimpa malang. Lahirnya kabur dan kini mahkota kebanggaan itu berdikit-dikit merobek kewujudannya. Pelan-pelan mengikis kehadiranya di dunia ini. Pedih itu padanya lebih sesuai dirasai pelaku dosa. Harusnya mereka menerima sakit setelah janji diselingkuh. Namun gadis itu tak ingin menyalahkan takdir. Tapi ia tak bisa fahami malang yang belum menandai penghujung. 

Amir, say something please...

Saya mahu berkata sabarlah wahai gadis cantik yang ditimpa malang, mungkin itu cuma petanda biasa. Tapi dia bicara dulu "mungkin ini bagiNya biasa" memendam sendu ia teresak-esak "Aku pula sudah semestinya menerima ini sebagai nasibku" kebiasaan yang malang. Lalu suaranya hilang sebentar diganti deraian hujan yang menerpa simen. Barangkali air mata sedang membasahi pipi halus gadis cantik itu.

Mana mungkin saya menenangkan dia. Memberi semangat saya jauh sekali berdaya. Bahkan saya sendiri seperti ditimpa malapetaka mendengar khabar itu. Gadis cantik yang ditimpa malang mengapa riwayatmu begini.

Amir, I think im gona fall asleep and pretend like this is just another horror dream.

tooot, tooot, toooot.

Rabu

Satu malam tanpa lindungan

PADA 19 Sep 2008 The Sun (UK) melaporkan sebuah penerbitan komik pendidikan seks bagi bacaan kanak-kanak sekitar umur 6-7 tahun. Komik bertajuk Let's Grow With Nisha and Joe itu dikeluarkan oleh Persatuan Perancangan Keluarga bagi mendidik kanak-kanak perbezaan tubuh badan lelaki dan perempuan. Kritikan terhadap komik ini timbul apabila ianya dilihat sebagai tidak berguna dan kurang sesuai bagi menangani masalah bunting waktu muda yang tinggi di Britain, yang juga tertinggi di Eropah.
KEMUDIAN pada 13 Feb 2009 The Sun (UK) melaporkan pula kelahiran bayi kepada pasangan bapa Alfie Patten (13) dan ibu Chantelle Steadman (15) yang di beri nama Maisie Roxanne. Alfie yang kelihatan seperti berumur lapan tahun itu sedar akan kebuntingan teman wanitanya cuma selepas 12 minggu melakukan seks tanpa lindungan. Untuk rekod, Alfie adalah bapa kedua termuda di Britain. "Dia akan menangis apabila ditanyakan tentang anaknya, Alfie kata itulah kali pertama dia melakukan seks" Ulas bapanya menganai Alfie. Apabila disoal perkara bayinya Alfie menjawab "Saya tak tahu berapa harganya sebungkus lampin, tetapi saya berjanji akan menjadi bapa yang baik" dan bila ditanyakan tentang duit matanya dialih dan tidak mahu menjawab. Mungkin dia tidak mempunyai sebarang pendapat tentang apa yang bakal dihadapi olehnya. 

Memetik tulisan kolumnis Jane Moore, "Mendengar Alfie berkata akan menjaga bayi itu dengan baik dan menjadi bapa yang bertanggungjawab amatlah naif. Dia sepatutnya bermain bola ataupun sekurang-kurangnya permainan komputer, bukanya main ayah-ayah dan menikmati seks".



Belajar Terbang

Hi saya kecil. Badan saya ringan!

Selasa

KEKAL BEGINI

3, 3, 2009 ulang tahun ke-2 hubungan sebuah cinta yang gagal. Bagi mengingati hari ini, seperti biasa tiada sambutan akan diadakan (kerana kami tak pernah menyambutnya). Tapi, barangkali bagus juga. Duit tak terbazir, masa tak terbuang dan nafsu tak terjejas. Hari ini lengkaplah setahun lagi. Dan kita masih hidup untuk membiarkanya berlalu begini seperti selalu.

Demkianlah keinginan ku yang tak membenarkan diri menyambut suatu yang belum pasti. Mungkin saja ia seperti menyambut titis hujan sebelum mendung. Ternyata berhasil membuat hubungan kita kekal begini. Semoga kamu beroleh kemakmuran dan dilempahi rezeki. Begitu juga aku dan sekian pembaca.

selamat ulang tahun